Topik 3 Tugas 3.5 Demonstrasi Kontekstual
KONTEKSTUALISASI MANUSIA INDONESIA
Topik 4 Tugas 4.9 Aksi Nyata
Pembelajaran pada Zone of Proximal Development (ZPD)
1. Mulai Dari Diri
Apa yang Anda pikirkan tentang topik ini sebelum memulai proses pembelajaran?
Jawab:
Pendidikan di Indonesia terus berkembang
dari waktu ke waktu. Semakin berkembangnya pendidikan juga menentukan kualitas
pendidikan. Salah satu elemen pendidikan yang membuat pendidikan semakin
berkembang adalah guru. Dalam melaksanakan pembelajaran dikelas guru perlu
menggunakan strategi yang tepat agar tujuan pembelajaran tercapai dengan baik.
Melalui ZPD akan muncul kemampuan pada individu yang semulanya tidak disadari
melalui interaksi dengan individu lain. Hal ini perlu dipelajari lebih dalam
lagi sebagai pedoman menjadi seorang pendidik.
2. Eksplorasi Konsep
Apa yang Anda pelajari dari konsep yang Anda pelajari dalam topik ini?
Jawab:
Zona perkembangan proksimal merupakan teori yang dikembangkan Vygotsky terkait jarak tingkat perkembangan actual anak dan tingkat perkembangan potensial anak dalam memecahkan masalah baik secara individu maupun kelompok. ZPD berhungan dengan interaksi anak yang diberikan bantuan dalam pembelajaran baik bantuan dari diri sendiri, teman sebaya maupun guru. Sebagai guru saya harus siap untuk dapat ditugaskan mengajar dengan memahami pembelajaran ZPD pada peserta didik dalam mengembangkan pengatahuannya dan minatnya dalam pembelajaran. ZPD menjadi proses pendewasaan pada anak, membantu anak dalam mengembangkan potensinya, dan saling berikteraksi. Pembelajaran ZPD mampu membuat peserta didik percaya diri, tidak malu bertanya, mau belajar, dan mau menerima masukan dari pihak lain.
3. Ruang
Kolaborasi
Apa yang Anda
pelajari lebih lanjut bersama dengan rekan-rekan Anda dalam ruang kolaborasi?
Jawab:
Dari hasil diskusi diperoleh pandangan masing-masing kelompok terkait Zone of Proximal Development (ZPD). Kemudian setelah memahami tentang ZPD, masing-masing anggota kelompok menilai kesiapan dalam mengimplimentasikan ZPD dalam pembelajaran. Dari berbagai pandangan awal dan penerapan pembelajaran ZPD, masing-masing anggota kelompok memiliki persaman dalam memperhatikan ZPD maka akan lebih mudah untuk memetakan kebutuhan belajar peserta didik. Persamaan pandangan tentang pembelajaran pada Zone of Proximal Development (ZPD) yang mempengaruhi proses pendidikan yang dimiliki adalah tingkat kemampuan peserta didik dibedakan ke dalam dua tingkatan yaitu tingkat perkembangan aktual dan potensial. Memperhatikan ZPD membuat guru lebih mudah mengembangkan proses belajar mengajar, karna kita tau peserta didik mana yang membutuhkan bantuan pendidik dan mana yang membutuhkan bantuan tutor sebaya. Kemudian terdapat juga perbedaan yang dikemukakan yaitu penggunaan Scaffolding dalam pelaksanaan pembelajaran untuk membantu penerapan ZPD di sekolah diterapkan pada materi yang berbeda antar anggota kelompok. Guru perlu melakukan perencanaan pembelajaran dengan membuat modul ajar, soal diagnostik, dan pertanyaan pemantik yang nantinya akan dilaksanakan pada proses pembelajaran. Selain itu guru perlu mengetahui gaya belajar peserta didik sehingga dapat memberikan pembelajaran yang disesuaikan dengan gaya belajar. Perbedaan pandangan selanjutnya adalah bagi peserta didik kelompok atas perlu dipersiapkan soal pengayaan dan kelompok rendah perlu dipersiapkan soal remedial.
4. Demonstrasi
Kontekstual
Apa hal penting
yang Anda pelajari dari proses demonstrasi kontekstual yang Anda jalani bersama
kelompok (bisa tentang materi, rekan, dan diri sendiri)?
Jawab:
Bahwa ZPD yang telah didikusikan membuat setiap anggota kelompok memiliki gambaran dalam menemukan dan menyelesaikan permasalahan yang ditemukan dalam pembelajaran disekolah. Dari pesamaan dan perbedaan pandangan, masing-masing anggota dapat menemukan hal baru yang mungkin terjadi dan memperkirakan solisi dari hal tersebut.
5. Elaborasi
Pemahaman
Sejauh ini, apa
yang sudah Anda pahami tentang topik ini?
Jawab:
Topik ini memberikan penjelasan terkait penerapan konsep pembelajaran yang melibatkan perspektif sosiokulturan dengan penerapan Zone of Proximal Development (ZPD), dengan mempelajari topik ini saya menjadi lebih paham tentang bagaimana mempersiapkan pembelajaran dengan memperhatikan perspektif sosiokultural peserta didik. Solusi pembelajaran yang membuat peserta didik nyaman akan belajar dan berkembang dalam proses pembelajarannya. Sebagai seorang guru, penting untuk melakukan ZPD atau analisis awal yang dilakukan sebelum menentukan strategi pembelajaran yang akan diterapkan kepada peserta didik nantinya.
Apa hal baru yang
Anda pahami atau yang berubah dari pemahaman di awal sebelum pembelajaran
dimulai?
Jawab:
Pengetahuan baru yang diperoleh terkait penerapan ZPD, dimana penerapan
pembelajaran bersosiokultural dengan penerapan stratei ZPD meliputi bagaimana
guru dapat melakukan analisis awal yang berkaitan dengan latar belakang sosial
dan budaya peserta didik, sehingga nantinya mampu melakukan strategi
pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik/ latar belakang peserta didik,
sehingga kebutuhan belajarnya akan terpenuhi. Sebagai calon guru, ilmu ini
sangat penting bagi saya sebagai bekal nantinya saat menjalan profesi saya
sebagai seorang guru. Dimana nantinya saya akan dapat menentukan strategi
pembelajaran yang sesuai dengan latar belakang maupun karakteristik peserta
didik saya, karena telah melakukan analisis awal terlebih dahulu terkait sosial
dan budayanya. Pada pembelajaran abad 21 dan kurikulum merdeka, seorang guru
tidak hanya dituntut untuk menyampaikan materi pembelajaran saja, akan tetapi
seorang guru harus mampu mengamati seluruh kondisi yang ada pada peserta
didiknya, utamanya latar belakang sosial, budaya, ekonomi, dan politik yang
terhimpun dalam penerapan perspektif sosiokultural.
Apa yang ingin Anda
pelajari lebih lanjut?
Jawab:
Bagaimana cara menerapkan perspektif sosiokulturan melalui Zone of Proximal Development (ZPD) yang benar agar pembelajaran efektif?
6. Koneksi
Antar Materi
Apa
yang Anda pelajari dari koneksi antar materi baik didalam mata kuliah yang sama
maupun dengan mata kuliah lain?
Jawab:
Teori dalam menemukan zona perkembangan proksimal (ZPD) dan menurut pandangan Vygotsky memiliki kaitan denga praktik pendidikan yang mengkonseptualisasi hubungan pembelaajran dan perkembangan manusia. Keterkaitan topik 4 ini dengan mata kuliah lain yaitu dalam filosofi bahwa penting untuk mendukung lingkungan peserta didik. Melalui profiling dan melihat kesiapan belajar peserta didik serta kemampuan awalnya akan menjadikan ZPD solusi yang baik agar anak dapat berkembang dalam pembelaajrannya, hal ini terkait dengan mata kuliah pemahaman peserta didik dan pembelajaran berdiferensiasi. Keterkaitan dengan asesmen dalam melakukan perencanaan yang tepat agar ZPD dapat diterapkan dengan baik. Kemudian dalam praktik lapangan akan bisa terlihat bagaimana cara menerapkan ZPD dan apa efeknya bagi peserta didik.
7. Aksi
Nyata
Apa manfaat pembelajaran
ini untuk kesiapan Anda sebagai guru?
Jawab:
Mempersiapkan diri dalam mengajar dengan memperhatikan Pembelajaran pada Zone of Proximal Development (ZPD) pada peserta didik.
Bagaimana Anda
menilai kesiapan Anda saat ini, dalam skala 1-10. Apa alasannya?
Jawab:
Menurut saya kesiapan saya saat ini sudah dalam skala 8 dan sudah mulai diterapkan dalam pembelajaran siklus pertama, namun masih diperlukan evaluasi untuk perbaikan kedepan.
Apa yang perlu
Anda persiapkan lebih lanjut untuk bisa menerapkannya dengan optimal?
Jawab:
Pemahaman yang baik, strategi yang tepat, instrument yang mendukung, dan kemungkinan yang akan terjadi lalu solusi untuk hal tersebut.
Topik 3 Tugas 3.8 Aksi Nyata
Perspektif Sosial, Budaya, Ekonomi, dan Politik dalam Pembelajaran
1. Mulai Dari Diri
Apa yang Anda pikirkan tentang topik ini sebelum memulai proses pembelajaran?
Jawab:
Perspektif sosiokultural yang beragam di Indonesia menjadikan guru untuk dapat membuat strategi dan metode pembelajaran yang beragam agar peserta didik merasakan langsung manfaat dari pembelajaran. Berbagai permasalahan tentang pendidikan harus dapat diatasi agar semua peserta didik merasakan pembelajaran yang berkualitas. Hal tersebut akan membuat peserta didik baik dari pelosok negeri pun dapat mengenyam pendidikan yang sama dan mencapai cita-citanya dengan baik. Karena sangat banyak di pelosok negeri anak-anak bangsa yang berkualitas memiliki mimpi tinggi dan berusaha untuk bisa menggapai mimpinya sebisanya dengan fasilitas pendidikan yang seadanya. Dari berbagai macam perspektif tersebut hendaknya mampu memfasilitasi perkembangan anak untuk menggapai impiannya dan menggali potensi dirinya. Kemudian sebagai pendidik professional harus siap untuk menerima segala macam perspektif sosial pada anak dan membuat pembelajaran yang berpihak pada anak, terutama sesuai dengan perspektif sosiokulturalnya tersebut.
2. Eksplorasi
Konsep
Apa yang Anda
pelajari dari konsep yang Anda pelajari dalam topik ini?
Jawab:
Bahwa aktivitas sosial dan interaksi orang dewasa anak membentuk dasar sosialisasi kognitif pada anak dalam pengertian SES. Kemudian mediasi pada SES ini terkait dengan CHAT (Cultural Historical Activity Theory) dimana manusia tidak pernah bereaksi langsung terhadap lingkungannya, melainkan berinteraksi dengan objek melalui mediator yang merupakan alat dan sarana budaya. Perspektif sosial, budaya, ekonomi, dan politik dalam pendidikan di Indonesia terlihat bahwa peserta didik dengan latar belakang perspektif yang bagus akan dapat mengikuti pembelajaran dengan baik, karena sudah didukung oleh lingkungannya. Namun dibalik itu semua masih ada peserta didik dengan perspektif sosiokultural menengah kebawah yang dapat mengikuti pembelajaran dengan baik dikarenakan memiliki minat belajar yang tinggi, dan balik lagi hal ini sangat jarang terjadi. Ada 3 teori yang mendasari perspektif sosiokultural dam pembelajaran yaitu Vygotsky, Leont’ev, dan Ratner. Menurut Vygotsky anak-anak tumbuh menjadi kehidupan intelektual orang-orang disekitar mereka. Hal ini berkaitan dengan kaum muda mengembangkan minat dan aktivitas hidupnya bersama dengan kelompok ekonomi tertentu. Menurut Leont’ev bahwa keinginan, emosi, dan motif semuanya diproduksi didalam dan melalui sistem hubungan sosial seperti halnya proses kognitif. Keinginan adalah faktor yang memandu, mengatur aktivitas konkret agen dalam lingkungan objektif dijelaskan oleh fakta bahwa dalam masyarakt manusia objek hasrat diproduksi, dan keinginan itu sendiri karena juga diproduksi, kita dapat mengatakan hal yang sama tentang emosi dan perasaan. Ratner menyebutkan bahwa lima jenis utama fenomena budaya yaitu pertama, kegiatan budaya yang memproduksi barang, membesarkan dan mendidik anak. Kedua, nilai budaya, skema, makna, dan konsep bahwa orang-orang secara kolektif memberikan hal-hal dengan makna. Ketiga, artefak fisik yang terdiri dari perkakas, buku, kertas, gerabah, dan peralatan. Keempat, fenomena psikologis yaitu emosi, persepsi, motivasi, dan penalaran logis. Kelima, terdapatnya agensi yaitu manusia secara aktif membangun dan merekonstruksi fenomena budaya. Kelima jenis budaya ini jelas saling terkait dan bergantung masing-masing dalam mewujudkan karakter khas budaya dari dalam dirinya.
3. Ruang
Kolaborasi
Apa yang Anda
pelajari lebih lanjut bersama dengan rekan-rekan Anda dalam ruang kolaborasi?
Jawab:
Dari hasil diskusi masing-masing rekan kelompok dapat diperoleh bahwa perspektif sosial, budaya, ekonomi, dan politik berpengaruh dalam pendidikan yang berkaitan dengan cara pendang masyarakat dalam memahami arti penting pendidikan, sehingga dapat memiliki tujuan hidup yang lebih baik. Dalam dunia Pendidikan tentunya banyak ditemukan keberagaman yang unik. Kesiapan mengajar dengan memperhatikan perspektif sosial, budaya, ekonomi, dan politik dalam pembelajaran pada peserta didik adalah aspek penting dalam pendidikan kontemporer. Ini mencerminkan pemahaman bahwa pembelajaran bukan hanya tentang transfer pengetahuan, tetapi juga memahami peserta didik dalam konteks sosial, budaya, ekonomi, dan politik mereka. Dengan memperhatikan perspektif sosial, budaya, ekonomi, dan politik dalam pembelajaran, guru dapat menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan sosial, budaya, ekonomi, dan politik peserta didik. Ini membantu mempersiapkan peserta didik untuk menjadi anggota masyarakat yang berpikir kritis, peduli dan inklusif. Perspektif-perspektif ini juga memungkinkan peserta didik untuk mengembangkan pemahaman yang mendalam tentang dunia di sekitar mereka dan membentuk pandangan yang kritis terhadap isu-isu yang kompleks sehingga pembelajaran dapat menjadi lebih berarti dan relevan. Hal tersebut bertujuan mempersiapkan peserta didik untuk menghadapi tantangan dunia yang terus berkembang. Kemudian, masing-masing perspektif sosiokultural dalam pembelajaran yang mempengaruhi proses pendidikian memiliki persamaan terkait memahami perbedaan status sosial dan memiliki kemampuan IPTEK, perbedaanya terdapat ketika pada faktor politik yang mempengaruhi kurikulum. Diakhir diskusi saya memperoleh bahwa persamaan dan perbedaan pandangan tentang mengajar dengan memperhatikan perspektif sosial, budaya, ekonomi, dan politik dalam pembelajaran pada peserta didik. Persamaan yang terdapat yaitu penting bagi guru untuk memetakan latar belakang sosial, politik, ekonomi dan budaya peserta didik dan tidak membeda-bedakan peserta didik dalam proses pembelajaran. Perbedaanya yaitu diamati dari beberapa opini tentang mengajar dengan memperhatikan perspektif sosiokultural sosial, budaya, ekonomi, dan politik. Salah satunya yaitu terkait bagaimana cara guru memetakan peserta didik dan strategi, metode dan model pembelajaran yang akan dilakukan pada proses pembelajaran.
4. Demonstrasi
Kontekstual
Apa hal penting
yang Anda pelajari dari proses demonstrasi kontekstual yang Anda jalani bersama
kelompok (bisa tentang materi, rekan, dan diri sendiri)?
Jawab:
Bahwa latar belakang sosial, budaya ekonomi dan politik dapat di diskusikan sehingga memperoleh kesimpulan yang sama dalam proses pembelajaran yang lebih baik dan berpihak pada peserta didik. Setiap rekan kelompok juga mampu memberikan penilaian terhadap faktor-faktor yang berbeda dan saling belajar. Kemudian juga dapat saling menghargai dan menghormati pendapat rekan kelompok lainnya serta melakukan evaluasi terhadap diskusi yang telah dilakukan.
5. Elaborasi
Pemahaman
Sejauh ini, apa
yang sudah Anda pahami tentang topik ini?
Jawab:
Perspektif sosiokultural sangat berpengaruh pada Pendidikan terutama dalam proses pembelajaran sehingga sebagai guru harus mampu menghadapi perbedaan dan tantangan yang ada. Sebagai guru harus mampu mempelajari, mengenal, dan memahami adanya perbedaan perspaktif sosiokultural dengan pendekatan kepada peserta didik dan melakukan observasi peserta didik untuk acuan merancang pembelajaran.
Apa hal baru yang
Anda pahami atau yang berubah dari pemahaman di awal sebelum pembelajaran
dimulai?
Jawab:
Hal yang saya pahami bahwa sebagai seorang guru harus mampu mempertimbangkan SES peserta didik dalam pembelajaran dan memperhitungkan dimensi sosial di sekolah termasuk hubungan sosial antara peserta didik dan guru. Pertimbangan akan strategi pembelajaran, metode pembelajaran, dan teknik penilaian dalam pembelajaran yang akan diterapkan berdasarkan perspektif sosiokultural peserta didik perlu untuk memenuhi kebutuhan peserta didik
Apa yang ingin Anda
pelajari lebih lanjut?
Jawab:
Strategi pembelajaran yang dapat diterapkan berdasarkan perspektif sosial, budaya, ekonomi dan politik peserta didik.
6. Koneksi
Antar Materi
Apa
yang Anda pelajari dari koneksi antar materi baik didalam mata kuliah yang sama
maupun dengan mata kuliah lain?
Jawab:
Teori yang ada pada topik 3 ini berkaitan satu sama lain seperti teori Vygotsky terkait setiap anak yang mengembangkan minatnya berdasar kelompok ekonomi tertentu, yang berkaitan dengan pendapat Leont’ev bahwa keinginan , emosi, dan motif semuanya diproduksi melalui hubungan sosial ekonomi tertentu. Selain keterkaitan antar teori didalamnya, terdapat pula keterkaitan dengan mata kuliah lain yaitu dengan filososfi pendidikan yang sama-sama berbicara terkait budaya yang mendukug minata anak dilingkungannya. Koneksi dengan pemahaman peserta didik pada teori Bronfenbrenner yaitu individu dipengaruhi ekologi lingkungannya. Koneksi dengan pembelajaran berdiferensiasi yaitu kelas sosial budayaa dapat menjadi acuan dalam memilih strategi pembelajaran. Koneksi dengan asesmen yaitu nilai-nilai budaya dapat menjadi salah satu acuan dalam merancang asesmen yang dekat dengan budaya anak. Terakhir, koneksi dengan praktik lapangan yaitu diterapkannya pembelajaran berdiferensiasi yang mengerti kodrat anak dan mengkondisikan lingkungan belajar yang kondusif dalam siklus pertama.
7. Aksi
Nyata
Apa manfaat pembelajaran
ini untuk kesiapan Anda sebagai guru?
Jawab:
Mempersiapkan diri dalam penggunaan strategi yang tepat setelah mengetahui latarbelakang SES dan CHAT peserta didik sebelum pembelajaran dimulai.
Bagaimana Anda
menilai kesiapan Anda saat ini, dalam skala 1-10. Apa alasannya?
Jawab:
Menurut saya kesiapan saya saat ini sudah dalam skala 9 dan sudah mulai diterapkan dalam pembelajaran siklus pertama, namun masih diperlukan evaluasi untuk perbaikan kedepan.
Apa yang perlu
Anda persiapkan lebih lanjut untuk bisa menerapkannya dengan optimal?
Jawab:
Pemahaman yang baik, strategi yang tepat, instrument yang mendukung, dan kemungkinan yang akan terjadi lalu solusi untuk hal tersebut.
Topik 2 Tugas 2.4 Ruang Kolaborasi
Kelompok 3
Konteks sosio-kultural (nilai-nilai luhur budaya) di daerah yang sejalan dengan pemikiran KHD
BUDAYA PACU JALUR
Pacu Jalur (juga dieja sebagai Pachu
Jalugh, atau Patjoe Djaloer) adalah perlombaan
tradisional dayung perahu atau sampan atau kano yang terbuat dari kayu gelondongan utuh yg dibentuk menjadi perahu khas
Rantau Kuantan yang berasal dari kabupaten Kuantan Singingi Provinsi Riau, Indonesia.
Dimulai dari abad ke-17, Pacu Jalur bermula
dari sebuah sistem transportasi utama warga desa di Rantau Kuantan, sebuah
daerah di sepanjang Sungai Kuantan. Masyarakat belum mengenal transportasi
darat pada waktu itu karena Sungai Kuantan masih menjadi sumber kehidupan
masyarakat sekitar. Mulai dari memancing, mencuci pakaian dan mandi, hingga
sebagai jalur transportasi. Kata Jalur sendiri dalam Bahasa tradisional Riau
berarti Perahu.
Mampu menampung 40 hingga 60 orang,
masyarakat beramai-ramai menggunakan Jalur untuk mengangkut hasil bumi seperti
pisang dan tebu. Seiring waktu, muncul berbagai Jalur yang diberi ukiran-ukiran
indah, selendang, tali-temali dan berbagai aksesoris pemanis lainnya.
Lambat laun, Jalur tidak hanya berfungsi
sebagai alat angkut namun juga sebagai simbol status sosial masyarakat pada
kala itu. Pasalnya, hanya datuk-datuk, bangsawan atau penguasa wilayah saja
yang dapat mengendarai Jalur berhias. Semakin mewah hiasannya, semakin
eksklusif pula Jalur tersebut.
Barulah pada abad ke - 18, warga mulai
menggelar lomba adu kecepatan antara Jalur yang sampai hari ini dikenal sebagai
Pacu Jalur.
IMPLEMENTASI
PEMIKIRAN KHD DALAM BUDAYA PACU JALUR
·
Pemain paling depan
terdiri atas anak joki dan pendayung pangkal perahu. Anak joki bertugas sebagai
pemberi informasi kepada anak pacuan tentang posisi haluan jalur sekaligus
memberikan semangat. Kemudian pendayung paling depan sebagai pemimpin
Ing madya mangun karso
·
Pendayung yang berada di Tengah
bertugas sebagai pengarah jalan dan pengingat anak pacu ketika mendayung.
Tut
wuri handayani
·
Yang berada di bagian
belakang memberikan dorongan agar jalur atau perahu melaju dengan baik ke garis
finish.
Filosofi
budaya pacu jalur yang bisa kita dapatkan yaitu untuk suatu tujuan perlu adanya
Kerjasama dan saling bahu membahu sehingga tercapai apa yang menjadi tujuannya.
Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh. Pacu Jalur juga menjadi ajang silaturahmi bagi rakyat Kuantan Singingi, dimana ketika pacu jalur berlangsung banyak rakyat yang pulang kampung untuk ikut menyemaraki acara ini.
Topik 1 Tugas 1.7 Koneksi Antar Materi
RELEVANSI perjalanan pendidikan nasional
Simpulan dan Penjelasan Perjalanan Pendidikan Nasional
Dunia pendidikan merupakan sesuatu yang cukup dekat dengan saya, karena saya sudah terlibat didalamnya semenjak menjadi peserta didik hingga saat ini menjadi guru. Ketika melakukan refleksi terkait pengalaman dibangku sekolah, mampu membuka pemikiran saya terkait siapa saya sebagai seorang guru. Menjadi guru membawa saya untuk selalu berkembang dan belajar setiap harinya. Menjadi guru yang inspiratif dan menyenangkan merupakan salah satu hal yang menjadi tujuan saya, dan saya perlu terus belajar untuk itu.
Dalam proses pembelajaran menjadi seorang guru, membawa saya mengenal sosok Ki Hadjar Dewantara yaitu Bapak Pendidikan Indonesia, dimana menurutnya Pendidikan berhubungan dengan kodrat alam yaitu sebagai pendidik harus memberikan teladan yang baik demi membentuk karakter peserta didik yang positif. Kemudian kodrat zaman yaitu menekankan pada kemampuan peserta didik untuk mengembangkan pengetahuan seluas-luasnya seiring perkembangan zaman, tentunya tidak terlepas dari tugas guru sebagai pembimbing. Dalam sebuah pidato sambutannya beliau menjunjung tinggi kemerdekaan, pendidikan, dan kebudayaan Indonesia.
Praktik pendidikan dewasa ini yang membelenggu peserta didik, yaitu peserta didik seolah-olah terikat oleh kurikulum tanpa mampu mengembangkan kemampuan dan minat pada diri peserta didik. Hal ini membuat peserta didik tidak merdeka dalam belajar dan mnjadikan belajar tidak lagi menyenangkan. Oleh karena itulah diperlukan pembelajaran berdiferensiasi untuk memetakan setiap peserta didik agar mampu berkembang sesuai kebutuhannya, sehingga tidak lagi kembali pada masa penjajahan.
Pendidikan pada masa kolonial Belanda dan Jepang hanya sebagai syarat untuk kepentingan penguasa saja. Hingga pada tahun 1920 kemudian lahirlah cita-cita untuk melakukan perubahan radikal dalam Pendidikan dan pengajaran. Kemerdekaan dan kebebasan kebudayaan bangsa yang dicetuskan oleh Ki Hadjar Dewantara dengan tujuan memberikan kesempatan dan hak pendidikan yang sama bagi seluruh rakyat Indonesia. Tentunya tanpa pandang faktor sosial, budaya, ekonomi, politik dan sesuai dengan perspektif sosiokultural yang berbeda-beda antara setiap rakyat Indonesia.
Kondisi pendidikan di Indonesia setelah merdeka mengarah kepada perubahan proses pembelajaran dan landasan pendidikan. Pada pendidikan di era ini, bangsa Indonesia berusaha menghilangkan paham-paham pendidikan Belanda dan Jepang, sehingga peserta didik memiliki ciri khas Indonesia dan berkarakter. Pembelajaran di rancang sedemikian rupa agar budaya bangsa Indonesia dapat terus diwariskan. Pembelajaran juga memperhatikan tahap perkembangan peserta didik agar proses pembelajaran bermakna, salah satunya mendalamai teori-teori pemahaman peserta didik. Kemudian peserta didik juga perlu diberikan prinsip pengajaran dan asesmen yang tepat dalam melihat perbaikan kualitas di setiap pembelajarannya menjadi manusia yang merdeka.
Refleksi dari pengetahuan dan pengalaman baru yang diperoleh
Berdasarkan pidato Ki Hadjar Dewantara bahwa Pendidikan adalah tempat persemaian segala benih-benih kebudayaan yang hidup dalam masyarakat, saya merefleksikan diri untuk menjadikan pendidikan sebagai wadah menanamkan benih kebudayaan yang muncul dalam pendidikan kepada peserta didik sebagai bibit-bibit yang akan menjadi generasi masa depan bangsa yang beradab, berakhak mulia, dan berguna bagi bangsa dan negara.
Dengan melihat perjalanan pendidikan dari sebelum hingga setelah kemerdekaan membuat saya paham akan pendidikan yang memerdekakan peserta didik. Pendidikan yang tidak menjadi belenggu bagi peserta didik sehingga peserta didik mampu berkembang. Pendidikan yang menuntun tumbuh kembangnya peserta didik sesuai kodratnya. Pengajaran yang sesuai dengan asas pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara, Ing ngarso sung tuladho (guru didepan sebagai contoh), Ing madya mangun karsa (guru ditengah memberi semangat serta ide), dan Tut wuri handayani (guru dibelakang memberi motivasi).
Jika kelak menjadi seorang guru Saya ingin menjadi guru yang dapat menjadi contoh, dan menjadi teladan yang baik bagi peserta didik. Menjadi guru yang mampu memberikan kesan baik dalam pembelajaran. Menjadi guru yang mampu mendidik dengan mengasuh dan memberi nilai-nilai positif dalam kehidupan mereka dengan memperhatikan dan menuntun peserta didik untuk mengembangkan diri agar merdeka batinnya, pikirannya, dan juga tenaganya. Hal ini sesuai dengan tujuan pendidikan yang memanusiakan manusia, dan pendidikan yang mencerminkan budaya bangsa agar menjadi manusia yang mandiri.
Topik 2 Tugas 2.8 Aksi Nyata
1. Mulai Dari Diri
Apa yang Anda pikirkan tentang topik ini sebelum memulai proses pembelajaran?
Jawab:
Bahwa sebagai seorang pendidik penting untuk mengetahui konsep dasar perspektif sosiokultural dalam pendidikan. Hal yang bisa dilakukan yaitu dengan observasi lingkungan, wawancara dengan peserta didik, diskusi bersama wali murid, berkolaborasi dengan guru, dan dapat menerima berbagai informasi dengan warga sekolah lainnya. Kemudian pendidik akan memperoleh informasi yang dibutuhkan nantinya dalam proses pembelajaran demi kelancaran tujuan pendidikan. Topik 2 materi perspektif sosiokultural membawa saya sebagai calon pendidik untuk melihat pentingnya faktor sosial, budaya, ekonomi, dan politik dalam penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran.
2. Eksplorasi Konsep
Apa yang Anda pelajari dari konsep yang Anda pelajari dalam topik ini?
Jawab:
Pengetahuan tentang SES, yaitu singkatan dari Socio Economic Status adalah cara untuk mengelompokkan individu maupun sebuah keluarga berdasarkan kemampuan ekonomi dan status sosialnya. SES juga dikatakan sebagai aktivitas sosial dan interaksi antara orang dewasa-anak yang membentuk dasar sosial kognitif terkait sejauh mana perbedaan dan perlakuan berbeda berdasarkan status soisal ekonomi yang menciptakan kompetensi sosial pada anak yang berhubungan dengan akademiknya. SES ini menjadi faktor yang penting dalam prestasi akademik anak dan menjadi perhatian bagi pendidik untuk dapat memberikan pengajaran yang tepat sehingga semua anak mendapatkan kemerdekaan dalam belajar dan menerima pengajaran. Pola sosialisasi SES mempengaruhi psikologis pada anak sehingga berdampak kepada prestasi belajarnya dan efek lain yang baik serta mungkin menyimpang. Hal baik dan menyimpang ini akan dimediasi dengan memberikan motivasi agar memperoleh penguatan dalam pengajaran.
3. Ruang Kolaborasi
Apa yang Anda pelajari lebih lanjut bersama dengan rekan-rekan Anda dalam ruang kolaborasi?
Jawab:
Mengetahui bahwa faktor sosial, budaya, politik, dan ekonomi mempengaruhi cara pandang dan perkembangan pendidikan pada suatu daerah. Sebagai seorang guru harus mampu mempertimbangkan faktor-faktor tersebut dalam pendekatan pembelajaran untuk mengetahui kebutuhan peserta didik. Kemudian dengan kebutuhan tersebut didapatkan strategi ataupun metode yang tepat dalam proses pembelajaran yang akan dilakukan.
4. Demonstrasi Kontekstual
Apa hal penting yang Anda pelajari dari proses demonstrasi kontekstual yang Anda jalani bersama kelompok (bisa tentang materi, rekan, dan diri sendiri)?
Jawab:
Diskusi tentang penerapan strategi pembelajaran yang dapat menyesuaikan faktor sosial, budaya, ekonomi, dan politik peserta didik dengan mencari jalan keluar dari suatu permasalahan sehingga dapat dijadikan referensi dalam kegiatan pembelajaran agar menjadikan pembelajaran yang merdeka dan berpihak kepada peserta didik.
5. Elaborasi Pemahaman
Sejauh ini, apa yang sudah Anda pahami tentang topik ini?
Jawab:
Faktor sosial ekonomi memang mempengaruhi kegiatan pembelajaran. Setiap pembelajaran yang dilakukan harus mempertimbangkan faktor tersebut agar peserta didik merdeka dalam belajar.
Apa hal baru yang Anda pahami atau yang berubah dari pemahaman di awal sebelum pembelajaran dimulai?
Jawab:
Hal yang saya pahami bahwa pendidikan sosiokultural sangat berpengaruh dalam kegiatan pembelajaran sehingga guru perlu memetakan kebutuhan peserta didik sehingga sesuai dengan rancangan pembelajaran.
Apa yang ingin Anda pelajari lebih lanjut?
Jawab:
Saya ingin mengetahui bagaimana keluarga sebagai salah satu faktor sosial terdekat dapat berpengaruh dalam pendidikan, bagaimana budaya yang terbentuk dari keluarga mempengaruhi pendidikan, bagaimana hubungan antar keluarga sebagai dasar faktor politik dapat membuat pendidikan maju, dan bagaimana cara faktor ekonomi keluarga mempengaruhi tingginya minat pendidikan di Indonesia. Kemudian bagaimana SES dapat dimediasi dengan baik sehingga membuat pengajaran yang berpihak pada anak menjadi lebih menyeluruh.
6. Koneksi Antar Materi
Apa yang Anda pelajari dari koneksi antar materi baik didalam mata kuliah yang sama maupun dengan mata kuliah lain?
Jawab:
Bahwa dengan mengetahui faktor sosial ekonomi peserta didik dan lingkungannya dapat megetahui bagaimana menghadapi peserta didik dalam pembelajaran. Hal ini terkait dengan materi filosofi pendidikan pada pemikiran Ki Hajar Dewantara yaitu pendidikan yang sesuai kodrat budaya Indonesia yang penuh dengan keberagaman dan pendidikan adalah tempat persemaian benih kebudayaan Indonesia. Terkait materi pemahaman peserta didik, dimana pemahaman cara peserta didik belajar dengan pengintegrasian teori perkembangan kognitif, sosial emosional, dan latar belakang budaya, membuat berbagai keputusan terkait menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan berpihak pada peserta didik. Terkait materi pembelajaran berdiferensiasi, bahwa keputusan masuk akal yang dilakukan guru dalam melaksanakan pembelajaran menyesuaikan dengan karakteristik peserta didik yang beragam, salah satunya dikarenakan faktor sosiokultural peserta didik yang berbeda-beda. Terkait materi pengajaran dan asesmen, dimana prinsip yang harus dimiliki pendidik dalam merencanakan pembelajaran dan asesmen yang efektif sesuai dengan tujuan pembelajaran, kerena perbedaan karakteristik peserta didik maka perlu asesmen yang dapat memberikan informasi holistik terhadap proses pembelajaran. Kemudian setelah mengetahui faktor sosiokultural pada peserta didik, maka dengan praktik lapangan dapat mengetahui secara langsung bagaimana pengaruh dari faktor-faktor tersebut dan bagaimana cara menghadapinya.
7. Aksi Nyata
Apa manfaat pembelajaran ini untuk kesiapan Anda sebagai guru?
Jawab:
Mempersiapkan kegiatan pembelajaran yang berlandaskan latarbelakang status sosial ekonomi peserta didik.
Bagaimana Anda menilai kesiapan Anda saat ini, dalam skala 1-10. Apa alasannya?
Jawab:
Menurut saya kesiapan saya saat ini sudah dalam skala 8,5 karena dengan mempelajari materi ini saya menyadari bahwa dengan memberikan pendidikan yang berlandaskan latarbelakang status sosial ekonomi peserta didik menjadi langkah dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan akan disempurnakan ketika nantinya terjun langsung dilapangan. Karena saya telah mengetahui banyak hal tentang perspektif sosiokultural pada dunia pendidikan yang akan saya aplikasikan ketika nanti dalam pembelajaran nyata jika berada disituasi sosial, budaya, ekonomi, dan politik yang beragam.
Apa yang perlu Anda persiapkan lebih lanjut untuk bisa menerapkannya dengan optimal?
Jawab:
Pemahaman yang baik, introspeksi diri yang benar, dan kemungkinan yang akan terjadi lalu solusi untuk hal tersebut.
Topik 6 tugas 6.8 Aksi Nyata ...